Pertama kali saya turun bermain di liga tarkam, jujur saja, rasanya jauh lebih menegangkan dibanding ikut turnamen resmi sekolah atau kantor. Bukan karena kualitas lawan yang luar biasa, tapi karena suasana di sekeliling lapangan. Penonton berdiri sangat dekat, sorakan datang dari segala arah, dan setiap sentuhan bola seolah diawasi puluhan pasang mata yang semuanya punya harapan sendiri. Di situlah saya mulai memahami bahwa tarkam bukan sekadar pertandingan sepak bola biasa.
Bermain di liga tarkam berarti siap menerima tekanan, sekaligus memikul kebanggaan yang tidak tertulis, tapi sangat terasa.
Tekanan yang Datang dari Banyak Arah
Tekanan pertama datang bahkan sebelum pertandingan dimulai. Sejak pemanasan, sudah terdengar teriakan penonton yang menyebut nama kampung, nama pemain, atau sekadar memancing emosi lawan. Sebagai pemain, sulit untuk benar-benar mengabaikannya. Lapangan mungkin kecil dan sederhana, tapi tekanannya besar.
Tekanan juga datang dari rekan setim. Bukan dalam arti negatif, melainkan tanggung jawab moral. Banyak dari mereka adalah teman sendiri, tetangga, atau saudara jauh. Saat satu pemain melakukan kesalahan, bukan hanya dirinya yang merasa bersalah, tapi seluruh tim ikut menanggung rasa kecewa.
Saya pernah melakukan kesalahan sederhana—salah kontrol bola yang berujung serangan balik lawan. Sorakan langsung berubah jadi keluhan. Tidak ada makian kasar, tapi nada kecewa itu justru lebih menusuk. Di momen seperti itu, mental benar-benar diuji.
Bermain untuk Nama Kampung, Bukan Sekadar Menang
Berbeda dengan kompetisi resmi yang membawa nama klub atau institusi, liga tarkam membawa identitas yang lebih personal: kampung. Nama kampung melekat di setiap seragam, teriakan, dan selebrasi. Menang berarti mengangkat harga diri bersama, kalah berarti siap menerima candaan atau sindiran berhari-hari.
Namun justru di situlah letak kebanggaannya. Saat berhasil mencetak gol atau membantu tim menang, rasanya bukan seperti prestasi pribadi. Ada kepuasan melihat senyum warga, tepuk tangan dari pinggir lapangan, dan ucapan sederhana seperti, “Mantap mainnya tadi.”
Saya pernah pulang dari pertandingan tarkam dengan tubuh pegal dan baju penuh lumpur, tapi hati terasa ringan. Bukan karena hadiah atau bayaran, melainkan karena merasa sudah memberi yang terbaik untuk tim dan kampung sendiri.
Dinamika Emosi di Dalam Lapangan
Liga tarkam adalah tempat emosi bercampur aduk. Semangat, marah, kecewa, dan bangga bisa muncul dalam satu pertandingan. Gesekan antarpemain hampir tidak terhindarkan, apalagi jika pertandingan melibatkan rival lama.
Saya pernah terlibat adu mulut singkat dengan pemain lawan karena perebutan bola yang keras. Saat itu emosi naik, penonton ikut memanas. Tapi setelah peluit panjang dibunyikan, kami saling berjabat tangan. Di luar lapangan, konflik sering kali mereda dengan sendirinya.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa tarkam bukan hanya soal teknik bermain, tapi juga soal mengelola emosi. Pemain yang bisa menahan diri biasanya justru lebih dihormati, baik oleh lawan maupun penonton.
Dukungan Penonton yang Bisa Mengangkat atau Menjatuhkan
Penonton di liga tarkam punya peran besar. Dukungan mereka bisa menjadi bahan bakar tambahan, tapi juga bisa menjadi beban. Sorakan positif membuat stamina seolah bertambah, sementara teriakan kecewa bisa menjatuhkan mental jika tidak siap.
Saya belajar untuk menyaring suara-suara dari luar. Fokus pada permainan, komunikasi dengan rekan setim, dan instruksi sederhana di lapangan. Tidak mudah, tapi seiring waktu, pengalaman itu membentuk ketahanan mental yang tidak saya dapatkan di tempat lain.
Menariknya, penonton tarkam biasanya sangat jujur. Jika bermain bagus, pujian datang apa adanya. Jika bermain buruk, kritik juga langsung terasa. Dari situ, saya belajar menerima penilaian tanpa harus selalu defensif.
Kebanggaan yang Tidak Bisa Dibeli
Bermain di liga tarkam memberi pelajaran bahwa kebanggaan tidak selalu datang dari panggung besar. Tidak ada kamera televisi, tidak ada sorotan media, tapi ada rasa memiliki yang kuat. Setiap pertandingan menjadi cerita yang terus dibicarakan di warung, pos ronda, atau acara kumpul warga.
Bagi banyak pemain, termasuk saya, tarkam adalah ruang belajar. Belajar tentang disiplin, kerja sama, menahan emosi, dan menghargai dukungan orang lain. Bahkan bagi yang tidak berkarier sebagai pemain profesional, pengalaman ini meninggalkan bekas yang sulit dilupakan.
Penutup: Tarkam sebagai Sekolah Mental dan Kebersamaan
Pengalaman bermain di liga tarkam bola adalah perpaduan antara tekanan dan kebanggaan. Tekanan dari ekspektasi, sorakan, dan gengsi kampung, serta kebanggaan karena bisa menjadi bagian dari cerita kolektif warga.
Bagi saya, tarkam adalah pengingat bahwa sepak bola tidak selalu tentang liga besar dan stadion megah. Di lapangan sederhana, dengan penonton yang berdiri dekat dan emosi yang nyata, justru terasa esensi permainan yang sesungguhnya. Selama masih ada kampung, lapangan, dan orang-orang yang peduli, pengalaman bermain di liga tarkam akan selalu punya tempat istimewa di hati para pemainnya.
